Published On: Ming, Mei 28th, 2017

Ini Dia “Tradisi Umat Muslim Kabupaten Bengkalis Dalam Menyambut Bulan Ramadhan”

Share This
Tags
Suarakedaulatan.com,BENGKALIS – Bawa Hidang, suatu tradisi membawa hidangan makanan

Beberapa jema'ah terlihat membawa hidangan ke rumah ibadah sebelum sholat Maghrib berjamaah.

Beberapa jema’ah terlihat membawa hidangan ke rumah ibadah sebelum sholat Maghrib berjamaah.

oleh jema’ah ke masjid atau musholla dalam menyambut bulan Ramadhan di daerah Bengkalis, Riau.

Tradisi bawa hidang yaitu membawa hidangan makanan oleh jema’ah masjid atau musholla ditempat tinggalnya.
Kebiasaan masyarakat Islam di Bengkalis, dalam bulan Sya’ban atau biasa disebut bulan Kenasik (Kenduri Nasik, singkatan) menyambut Ramadhan melaksanakan kenduri di rumah masing-masing. Tapi, pada suatu ketika masyarakat mengalami sedikit kesulitan untuk melakukan kenduri ini akhirnya diambil kata sepakat untuk membawa hidangan ke masjid atau musholla.
Umumnya satu rumah membawa satu hidangan, tapi hingga menyambut bulan puasa tahun ini, masyarakat membawa paling sedikit 2 hidangan ke rumah, ada 3 bahkan 4 hidangan satu rumah.
Walaupun begitu, bagi yang tidak membawa hidangan juga akan ikut dalam acara ini sebab membawa hidangan bukanlah suatu paksaan.
Setelah sholat Maghrib berjamaah dan pembacaan do’a, acara yang biasanya digelar pada malam 1 Ramadhan ini dilanjutkan dengan Tahlilan, pembacaan do’a selamat, dan lainnya serta do’a buat kaum muslimin muslimat yang telah meninggal dunia.
Setelah selesai Tahlilan, hidangan di dalam nampan atau dulang yang lengkap nasi beserta lauk pauknya segera disajikan buat hadirin, baik tua maupun muda, lelaki maupun perempuan. Satu hidangan akan duduk melingkar 4 orang jema’ah menghadapi hidangan. Di dalam dulang cuma ada piring dan nasi hanya cukup untuk 4 orang saja.
Makanan ini selain disantap para jema’ah rumah ibadah tempat acara digelar, juga akan disuguhkan kepada undangan yang merupakan jema’ah masjid atau musholla daerah tetangga.
Menurut Arifin Arif (80th), seorang imam masjid di Bengkalis, Tradisi Membawa Hidang ini telah ada sekitar tahun 1940an.
“Membawak idang mase dulu tidaklah menjadi paksaan, bagi yang tidak mampu make tak peghelu membawaknye,” kata Arifin Arif dalam dialek Melayu Pesisirnya.
Terdapat sedikit perbedaan tradisi membawa hidang zaman dulu dan sekarang. Dulu, umumnya lauk dalam hidangannya ayam kampung, atau daging lembu, ataupun ikan tenggiri segar dari Selat Bengkalis.
Selain perbedaan ini, juga penggunaan rantang sebagai tempat makanan digunakan oleh jema’ah yang rumahnya jauh dari masjid. Kemudian, dulu belum ada air mineral, dan kalau hujan turun makan jalan becek tidak seperti sekarang ini. Penutup hidangan pula menggunakan daun pisang.
Secara umum perkara-perkara di luar ibadah boleh dilakukan asal di dalamnya tidak ada unsur-unsur yang bertentangan dengan syariat Islam. Termasuk dalam hal ini Tradisi Membawa Hidangan​ ke masjid atau musholla atau diistilahkan kenduri bersama.
“Sepengetahuan saya, dalam praktek tradisi ini tidak ada yang menyalahi syariat. Bahkan di dalamnya ada ajaran yang sangat dianjurkan Islam utk dilakukan, diantaranya menjalin ukhuwah dan silaturrahmi,” kata H Amrizal Isa ketua MUI Kabupaten Bengkalis.
Menurut H Amrizal Isa lagi, “Suatu hal yang perlu digaris bawahi bahwa tradisi yang dipraktekan di masyarakat bukan sesuatu yang wajib untuk dilakukan. Jadi sampai ada persepsi kalau ia tidak dilaksanakan seolah-olah​ ada perasaan bersalah atau berdosa,” pungkasnya.
Bagi mereka yang tidak berkemampuan mengadakan hidangan, cukup datang saja ke masjid atau musholla ikut sholat dan berdo’a bersama.
“Awalnya, Tradisi Membawa Hidangan ​ini dilaksanakan malam 1 Ramadhan, tetapi karena adanya pengurus masjid atau musholla mengundang jema’ah rumah ibadah di desa atau dusun tetangga makanya ada yang melakukannya berapa hari sebelum 1 Ramadhan,” terang H Abdul Gani (84th) pula.
Biasanya, hidangan yang terkumpul berjumlah 50-80an hidangan. Prakiraan jema’ah antara 200-300an orang hadir dalam acara makan bersama ini.
“Kalau Tradisi Membawa Hidangan ini hilang, kami sangat kecewa,” ungkap Arifin Arif senada dengan H Abdul Gani lirih.

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>