Published On: Rab, Agu 9th, 2017

Kembali Kunjungi Natuna, Susi : Natuna Punya Kultur, Budaya Dan Punya Cara Serta Kebiasaan, Semoga Dijaga dan Berubah Menjadi Lebih Baik

Share This
Tags

“Laut natuna yang memiliki air jernih memang luar biasa indahnya, namun sayang karang yang begitu banyak sebagian sudah mati. Pulau-pulau juga penuh dengan plastic dan sampah. Ini adalah keprihatinan yang luar biasa,”

Natuna, Suara Kedaulatan – Menteri IMG_20170807_101625_BURST2Kelauatan Dan Perikanan tiba di pelabuhan Perikanan Selat Lampa Natuna pada jum’at 04 agustus.  Menteri Susi Puji Astuti sengaja dating lebih awal untuk menikmati keindahan alam natuna. Dari bermain kano hingga berenang di laut Senoa.

Kedatangan MKP Susi Puji Astuti ke natuna kali ini dalam rangka penyerahan klaim asuransi nelayan 2016 senilai Rp. 160 juta kepada pemengang polis arusansi atas nama bujang hitam, nelayan desa sepempang kecamatan bunguran timur, karena kematian alami yang diterima oleh ahli waris almarhum bujang hitam. Kedua,  bantuan premi asuransi bagi nelayan 2017 kabupaten natuna sebanyak 72 nelayan senilai Rp. 175 ribu rupiah nilai premi/nelayan. Ketiga bantuan pemerintah berupa kapal pengangkut ikan 30 Gross Ton (GT) KM. Nelayan 2016-62 senilai Rp. 2.252.721.800 dan KM. Kapal Nelayan 2016-03 senilai Rp. 2.252.721.800.  keempat bantuan paket alat penangkap ikan yang pertama diberikan kepada kelompok nelayan Perbatasan Lubuk lembang sejahtera sebanyak 16 paket senilai Rp. 440.938.248., kedua kepada koperasi nelayan mandiri sebanyak 32 paket senilai Rp. 910.695.835 dan yang ketiga kepada koperasi nelayan perbatasan mutiara ujung utara sebanyak 21 paket senilai Rp. 620.277.957.

”saya dinatuna sudah 4 hari, dilaut sudah lumayan puas, tapi kalau namanya laut saya tidak pernah puas, selalu mau kelaut. Kemarin saya sebenarnya ingin tidur di selat lampa, ingin melihat laut, gunung, keindahan natuna ini yang luar biasa,”. Cerita Menteri Susi saat menyampaikan sambutannya di acara penyerahan clim asuransi dan alat tangkap di Pelabuhan Perikan Selat Lampa, Natuna. Senin (07/08).

Dengan mengunakan Heli, menteri susi juga menyempatkan berkeliling melihat indahnya pulau-pulau natuna dari udara. Menteri susi juga melihat kapal-kapal yang berlayar di Laut Natuna dan ibu menteri sangat tidak senang, karena ada kapal-kapal yang mirip dengan kapal Negara Thailand dan Vietnam, tapi mengunakan nama Indonesia.

“kemarin saya terbang naik heli keliling sampai kepulau seluan, ke pulau bunga, buton. Keliling lihat kapal-kapal, lihat nelayan, lihat perkampungan, saya juga melihat lima kapal yang namanya Indonesia tapi lunasnya punya Thailand dan Vietnam. Mungkin ini pekerjaan PSDKP dan angkatan laut untuk segera tangkap. Bagaimanapun juga saya sudah terbiasa jadi orang laut, lunas kapal Indonesia dengan lunas kapal Thailand sama ngak?. Beda (jawaban nelayan yang hadir-red). Dari jauh aja nelayan  tau itu kapal dari mana. Jadi aparat harus lebih tau perbedaannya, masyarakat saja tau beda kapal Indonesia dengan kapal Thailand dan Vietnam,” Cetus Susi.

Selain masalah tadi, menteri susi juga menyanyangkan dengan banyaknya terumbu karang yang mati dan sampah plastic terlihat menumpuk di beberapa tempat, termasuk sampah dipulau senoa tidak luput dari sorotannya.

 “Laut natuna yang memiliki air jernih memang luar biasa indahnya, namun sayang karang yang begitu banyak sebagian sudah mati. Pulau-pulau juga penuh dengan plastic dan sampah. Ini adalah keprihatinan yang luar biasa,”. Pungkasnya

Untuk kita ketahui, “Bapak presiden kita bicara dalam pidato kepresidenannya, dimana beliau ingin menjadikan Indonesia poros maritime dunia. Menjadikan laut kita menjadi masa depan bangsa kita. Ya saya pikir sangat betul. sekarang saya Tanya kepada sebagian masyarakat natuna, harapan hidup bapak yang paling besar itu dari darat atau laut?. Laut ( jawaban dari masyarat yang hadir-red). Jadi laut itu tumpuan cucu dan cicit bapak nanti. Apa bapak tidak ingin anak cucu tidak kelaut lagi. Kalau kita masih ingin hidup dan mendapatkan penghasilan dari laut, kita harus jaga laut, jangan lagi buang sampah dilaut,”. Pinta Ibu Menteri Kelautan dan Perikan.

Kapal Pencuri Ikan Harus Diberantas

Fasilitas ada, alat tangkap banyak. Namun, susi mengingatkan kalau ilegal fishing masih tetap terjadi. Maka fasiliatas yang telah ada saat ini akan sia-sia saja.

“Pola pikir bapak dan saya sama, masalah pencurian ikan harus diselesaikan, karena kalau pencuri ikan tidak diberantas, maka ikan juga tidak akan ada, nanti fasilitas seperti Tempat Pelelangan Ikan yang telah dibangun ini juga percuma. Saya berikan bapak alat tangkap, tapi kapal Thailand dan Vietnam masih ribuan di natuna, apakah bapak dapat ikan ketika melaut?. Tentu tidak to (kan-red),”. Jelasnya.

Angkatan laut, tambah bu susi, akan menjadi motor paling depan, PSDKP, Polair dan Kejaksaan, kita bersinergi dalam satgas 115. Menjadikan Indonesia suatu Negara paling ditakuti oleh pencuri ikan diseluruh dunia, itu suatu prestasi yang diukir oleh penjaga-penjaga laut Indonesia. Tidak ada laut yang paling ditakuti selain laut Indonesia.

“Natuna yang dulu seperti daerah entah siapa, ada anggapan seperti itu, karena terlalu jauh, terlalu kecil ditengah-tengah peta Indonesia. Sekarang militer, pertahanan semua berpikir sama, natuna adalah salah satu titik penting kedaulatan NKRI dilaut. Kemenangan kita dilaut natuna adalah penentu daripada spirit kebangsaan, spirit kesatuan, spirit pertahanan untuk menjaga kedaulatan Indonesia, itu titik utama,”.  Tutur menteri susi.

Menurutnya Spirit dari natuna ini yang mengerakkan supaya kita sadar bahwa pulau terluar adalah bagian paling penting dari Indonesia. Karena dengan panjang laut wilayah ZEE,  perbatasan daerah kita dengan Negara lain adalah laut bukan daratatan, perbatasan darat Indonesia dengan Negara tetangga cuma ada di Pulau Sebatik, Kalimantan, Papua dan Timur Leste. Cuma berapa kilo meter saja.

“Perbatasan kita dilaut  ini luar biasa luasnya dan kita tidak mungkin memagari laut. Jika kita membariskan kapal –kapal patroli kita di sejajari sekalipun tidak bisa untuk menutupi sebelah kiri natuna. Ratusan kapal patrol tidak bisa untuk memagari laut kita. Jadi apa yang bisa memagari laut kita, ya Cuma konsentensi Indonesia dalam menjaga lautnya itulah yang bisa memagari Negara ini,”. Jelas susi lagi.

Untuk itu semua kata susi, semua harus bekerja sama dalam memagari laut kita dari nelayan-nelayan asing yang selama ini mencuri ikan diwilayah Indonesia.

“Kalau kita tidak konsisten, hukum kita bisa dibeli, aparat kita bisa disuap, Izin diperjual belikan, ya selesai. Semua orang berduit bisa beli ini Negara. Kita harus jaga bersama. Saya sangat senang, kunjungan pertama kali kesini, konsentensi kerja yang saya tunjukan membangkitkan semangat kesatuan didukung penuh TNI, angkatan lautnya, angkatan udaranya, Polisinya, jaksanya. Sehingga saya bisa menyelesaikan pekerjaan saya dengan baik. Tanpa dukungan ini semua, tidak mungkin saya bisa menyelesaikan ini. Dan saya senang kedua kali kunjungan bersama bapak presiden Joko Widodo kemari, beliau melihat begitu pentingnya natuna,”. Imbuh bu menteri

Laut Natuna Utara

Kabupaten Natuna yang memiliki luas wilayah 264.198,37 km2 dengan luas daratan 2.001,30 km2 dan Lautan 262.197,07 km2.  Dengan lebih luas wilyah lautn daripada daratan, kabupaten natuna dan Masyarakatnya natuna  bangga, karena Negara mengangap penting laut natuna ini. Apalagi sekarang pemerintah sudah memberikan nama laut natuna yaitu Laut Natuna Utara. Ini merupakan kemenangan dan kebanggan tersendiri bagi kabupaten natuna ini.

“Sekarang Negara sudah menganggap penting natuna dari lautnya, bahkan laut natuna dapat nama sesuai dengan yang kita inginkan yaitu Laut Natuna Utara. Wilayah ZEE kita namanya Laut Natuna Utara dan kita tetap mengunakan nama itu. ini adalah kebanggaan dan kemenangan,”.Jelasnya lagi.

Dengan dibuatnya nama Laut Natuna Utara, ini menjadi suatu kebanggan dan menjadi identitas tersendiri bagi kabupaten natuna.

Susi juga meminta masyarakat natuna berubah dari kebiasaan membuang sampah kelaut dan merubah beranda rumah yang selama ini menghadap ke daratan menjadi menghadap ke Laut. Ini dilakukan supaya masyarakat bisa menjaga kebersihan laut .

“Saya minta beranda rumah yang menghadap laut  dan belakang rumahnya menghadap kejalan. Jadi otomatis belakang rumahnya bersih, karena malu kalau belakang rumah kotor sebab dipinggir jalan. Saya yakin sampah dilaut natuna akan berkurang sekali. Untuk bapak ketahui Negara kita indonesia ini penyumbang sampah platik terbesar kedua didunia setelah china. Satu tahun bumi kita ini dilautnya menerima sampah hampir dua ratus enam puluh juta ton, indonesia menyumbangkan lebih dari sembilan juta ton sampah plastik,”. Ungkap Bu Susi

“Kalau sampah seperti daun tidak masalah dibuang kelaut, tapi kalau sampah botol jangan dibuang kelaut, nanti bapak pasang jaring yang dapat juga plastik. Saya mohon ini pertama kali saya dengungkan, mudah-mudahan natuna menjadi pioner, mari gerakan natuna berhenti memunggungi laut, natuna berandanya adalah laut, nanti semuanya bersih. Turis akan datang. Banyak perusahaan-perusahaan yach yang mau masuk kapal yach kenatuna, kita memerlukan bandara international, nanti saya akan bicara dengan pak menhub. Tapi sekali lagi, platik tidak boleh ada dilaut. Kalau turis datang lihat sampah ya sudah pulang lagi mereka. Kemarin saya pergi kepulau senoa, sampai dipulau sana aduh sampah plastiknya ada dimana-mana,”Pungkasnya.

Kabar baik juga sempat menteri Susi ucapkan sebelum mengakhiri sambutannya, yaitu pemerintah jepang akan memberikan hibah 1 radar, 1 integrated fish spot, pelabuhan cold st orage, pasar ikan, universitas comunity yang akan di tandatangi pada saat peringatan ke 60 hubungan jepang dan indonesia.

“Ini adalah hal yang luar biasa. Rencana jepang akan membangun enam titik, salah satunya saya minta dinatuna, ini adalah hibah bukan investasi. Mohon kita buktikan sebagai penghargaan atas itu semua dari pemerintah pusat, dari jepang. Masyarakat natuna punya kultur, budaya, punya cara dan kebiasaan dirubah menjadi lebih baik,”. Tutup Susi (ZALI)

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>