Published On: Sen, Okt 16th, 2017

Misteri Tersimpan Desa Pangkalan Batang,Komplek Pemakaman DiArea Mangrove Putri Hijau

Share This
Tags

BENGKALIS – Pangkalan Batang, adalah salah satu desa tua di Pulau Bengkalis. Desa yang berjarak 5

Umar, mantan Kepala Desa Pangkalan Batang Umar saat mendampingi Derichard H. Putra dosen Universitas Riau meninjau pemakaman tua Desa Pangkalan Batang, menerima penjelasan dari Ismail (pengurus makam) yang sukarela, Jum'at (16/6/2017).

Umar, mantan Kepala Desa Pangkalan Batang Umar saat mendampingi Derichard H. Putra dosen Universitas Riau meninjau pemakaman tua Desa Pangkalan Batang, menerima penjelasan dari Ismail (pengurus makam) yang sukarela, Jum’at (16/6/2017).

kilometer dari Kota Bengkalis ini menyimpan beberapa misteri yang belum terungkapkan, salah satunya adalah Komplek Pemakaman di area Mangrove Putri Hijau, RT 012 RW 003 Dusun Sukajadi, di desa tersebut.

Dari Pantauan beberapa waktu silam, lokasi pemakaman yang hanya berjarak sekitar 15 meter dari pinggir pantai Selat Bengkalis ini punya hal-hal unik. Sebut saja, kondisi wilayah pemakaman yang lebih tinggi sehingga saat air pasang besar (pasang Keling) terjadi, lokasi ini tak digenangi air laut sedikitpun. Sementara disekitarnya, bahkan di beberapa pemukiman warga yang jaranya lebih dari 500 meter dari gigi pantai, tergenangi pasang. Selain itu, pemakaman ini tanah liat, dan berada di lokasi pemakaman ini terasa sejuk dan nyaman.

“Tak terasa takut selama saya membersihkan lokasi pemakaman. Saya membersihkan pemakam ini tidak ada yang menyuruh,” tutur Ismail yang mengurus pemakaman, kepada Koranriau.net, Jum’at (16/6/2017) silam.

Di pemakaman ini, ada dua makam yang hingga saat ini belum diketahui identitas pastinya. Namun dilihat dari bentuk nisannya seakan memberikan isyarat bahwa di dalam liang lahat itu merupaan orang yang berpengaruh semasa hidupnya, baik secara sosial atau mungkin secara spiritual religius.

Makam pertama dengan nisan ukiran yang cukup indah berbentuk seperti sebuah limas kerucut, di bagian bawahnya terdapat dua lekukan. Sedangkan di bagian depan nisan atas, terdapat sebuah batu alam sebesar  bola kaki yang seakan menjadi sandaran nisan atas.

Selain itu posisi nisan bagian bawah makam ini berbeda dari makam biasanya. Jika umumnya nisan bawah di tancapkan disekitaran ujung kaki, namun nisan pada makam ini ditancapkan sedikit ke atas, tepatnya disekitaran paha atau perut.  Makam ini diprediksi sebagai pusara seorang tokoh yang berpengaruh dalam bidang sosial kemasyarakatan.

Sementara makam kedua, dilihat dari batu nisan, makam ini diperkirakan pusara seorang wanita, namun bisa jadi pada zaman itu tidak demikian. Dengan kata lain, tempat peristirahatan terakhir ini diisi seorang lelaki berpengaruh dalam perkembangan Islam di Bengkalis. Sementara di sekeliling makam ini, terdapat tumpukan batu bata dengan postur  lebih lebar dan panjang dari batu bata yang ada saat ini.

Menurut cerita Ismail, yang secara sukarela menjadi seorang penjaga Komplek Makam Tua tersebut, mengatakan bahwa makam ini punya keanehan. Jika  tumpukan batu bata di sekitar makam ini disusun rapi, maka dikemudian hari batu bata tersebut acak-acakan kembali.

“Kami hanya mengira mungkin ini karena ulah monyet yang bermain disekitaran sini. Itu saja,” ujarnya menjelaskan di hadapan Ketua MUI Kabupaten Bengkalis, H Amrizal, di dampingi Ustadz Ahmad Fadli Saputra dan Ketua Yayasan Pondok Pesantren Madani Nusantara Bengkalis, Suyendri, serta beberapa masyarakat yang berkunjung usai ziarah di Makam Tuan Guru Haji Ahmad yang berlokasi sekitar 700 meter dari Komplek Makam Tua ini, Jum’at (13/10/2017) sore kemarin.

Ketua MUI Kabupaten Bengkalis, H Amrizal yang terlihat sangat penasaran akan sejarah dan kisah dibalik  Kompleks Makam Tua ini, mengaku akan berusaha semaksimal mungkin mencari referensi yang jelas dan akurat tentang makam-makam ini.

“Berdasarkan keterangan Pak Ismail, sebagai penjaga makam tua ini, bahwa sudah ada beberapa masyarakat yang berziarah ke makam ini. Ada yang dari Jawa Timur, Medan dan Solok, bahkan dari Bengkalis sendiri. Artinya tidak mungkin orang yang berziarah ke makam ini tidak tahu identitas kuburan yang diziarahi.,” tuturnya.

Namun, lanjutnya, Ismail sebagai penjaga sukarela memang tidak mengetahui identitas kuburan yang ada di Kompleks Makam Tua ini. Ia hanya berusaha menjaga dan membersihkan area makam. Karena dulunya kondisi makam ini sangat memperihatinkan, dipenuhi dengan semak belukar.

“Kami berharap kepada masyarakat yang mengetahui identitas makam tua ini dapat menerangkan kepada kami dan dapat diketahui oleh publik. Tentunya diharapkan agar sejarah yang ada tidak terputus dan hilang ditelan zaman,” pintanya.

Kemudian, disamping MUI berupaya mencari identitas makam tua ini, kiranya Pemerintah Desa, Kecamatan maupun Daerah, dapat merapikan lokasi tersebut dan menyediakan infrastruktur yang memadai. Karena jika sudah diketahui secara jelas, diharapakan makam ini dapat dijadikan salah satu icon objek wisata religi, di Pulau Bengkalis.

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>