Published On: Sab, Sep 19th, 2015

Toba Ku,Toba Mu, Toba Kita

Share This
Tags

Suarakedaulatan.com – Dalam beberapa minggu terakhir, grup line saya diramaikan dengan pembicaraan mengenai Toba Dreams. Toba Dreams sendiri merupakan film yang diadaptasi dari novel yang berjudul sama karangan TB Silalahi. Film ini disutradarai oleh Benni Setiawan dan diperankan oleh pasangan suami istri Vino G Bastian dan Marsha Timothy yang menceritakan bagaimana TB Silalahi membesarkan anak, dimana dalam hal ini anak tertuanya jatuh hati pada gadis yang memeluk agama berbeda dengannya. Film yang banyak mengambil setting di Balige ini memberikan kebanggaan tersendiri bagi suku Batak dan dengan penampakan panorama Danau Toba yang bisa menjadi obat rindu bagi para perantau di daerah lain. Selain itu, melalui film, baik secara langsung maupun tidak dapat mempromosikan Danau Toba agar lebih dikenal lebih luas sebagai salah satu daerah wisata.Danau Toba sendiri menawarkan berbagai macam jenis wisata kepada pengunjungnya, baik pemandangan alam, kebudayaan lokal bahkan belakangan pemerintah berupaya menjadikan Danau toba sebagai kawasan geopark yang diakui oleh UNESCO.
Jika dilihat langsung ke lapangan, apa yang terlihat keberadaan danau Toba yang indah di Toba Dreams berbeda dengan kenyataan yang terjadi sebenarnya. Menurut pengakuan beberapa teman di grup yang tinggal di dekat Danau Toba maupun yang baru-baru saja berkunjung ke Danau Toba, ada begitu banyak masalah lingkungan yang harus segera ditindak lanjuti, misalnya kesadaran wisatawan menjaga kebersihan Danau toba, masyarakat sekitar danau menjadikan Danau Toba sebagai “tempat sampah”, diantaranya sebagai tempat pembuangan kotoran hewan ternak, limbah rumah tangga, limbah perhotelan bahkan limbah pabrik di sekitar Danau Toba,. Serta keberadaan keramba yang semakin banyak yang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingginya populasi Eceng Gondok di Danau Toba.Keberadaan eceng gondok sendiri dapat menyebabkan pendangkalan saat eceng gondok yang mati hanyut ke dasar danau, hal ini kemudian dapat menyebabkan berkurangnya pasokan air bersih.
Bahkan Pada bulan Januari lalu, masyarakat yang tinggal di ekosistem Danau Toba melakukan aksi berjalan kaki dari Lapangan Merdeka Medan menuju gedung DPRD sumatera Utara mendesak Joko Widodo mencabut izin 5 perusahaan yang dinilai menimbulkan kerusakan ekosistem Danau Toba. Menurut Mongabay, 5 perusahaan itu diantaranya adalah PT. Aqua Farm yang berada di kabupaten Toba, PT. TPL, yang sebelumnya bernama PT. Inti Indorayon di Sosor Ladang, Porsea, Toba, PT. Gorga Duma Lestari yang memiliki izin alih fungsi hutan di desa Partungkot Naginjang, kabupaten Samosir, dan PT. Allegrindo di Urung Pane, kabupaten Simalungun. Keberadaan Danau Toba sendiri atau ekosistem Danau Toba berdasarkan administrasi pemerintahan, meliputi 7 kabupaten yaitu: Tapanuli Utara, Humbang Hasudutan, Toba, Samosir, Simalungun, Karo dan Dairi.
Apa yang sedang terjadi di ekosistem Danau Toba sekarang ini mengingatkan saya pada Tragedy of Commonsyang disampaikan pada mata kuliah Ekologi Umum. Tragedy of Commons atau tragedi kepemilikan bersama menurut Hardin merupakan eksploitasi sumber daya alam yang dilakukan masyarakat secara bebas untuk kepentingan individual, hal ini terjadi karena keberadaan sumber daya alam yang bersifat milik umum dan tidak adanya aturan yang mengikat tentang pemanfaatan sumberdaya alamyang kemudian dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan atau sumber daya alam itu sendiri karena tidak adanya rasa tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan karena merasa bukan tugasnya.
Pengelolaan ekosistem Danau Toba sendiri menurut Badan Koordinasi Pelestarian Ekosistem Kawasan Danau Toba sendiri harus memegang 3 prinsip, yaitu: prinsip pemulihan yang diharapkan mampu mempertahankan keberadaan ekosistem Danau Toba berdasarkan pada indikator ekosistem dan diarahkan pada upaya identifikasi dan perbaikan kerusakan yang timbul, prinsip keutuhan dan berkelanjutan yang berupaya menjaga keutuhan komponen ekosistem Danau Toba secara terus menerus dimana didalamnya termasuk upaya perlindungan terhadap komponen ekosistem dan prinsip kemitraan dimana kegiatan pembangunan harus berdasarkan pada rasa memilikim rasa tanggung jawab dan rasa takut yang kemudian diharapkan tercipta upaya pengawasan bersama dalam menjaga kelestarian ekosistem Danau Toba.
Kerusakan ekosistem Danau Toba mulai terlihat sekarang ini, penurunan kualitas air Danau Toba akibat keramba dan sampah, ditambah dengan kerusakan hutan di sekitar danau. Jika hal ini terjadi terus-menerus bukan tidak mungkin dapat mengakibatkan bencana yang bukan hanya menimpa masyarakat di sekitar ekosistem Danau Toba tetapi juga mempengaruhi masyarakat di daerah lain. Sebagai contoh berkurangnya debit air Danau Toba dapat mempengaruhi ketersediaan air bersih di dunia.
Sundawati dan Sanudin menyebutkan bahwa pemulihan ekosistem Danau Toba tidak dapat dikerjakan oleh satu pihak saja, dibutuhkan kerjasama seluruh pihak. Pihak yang berkepentingan seperti masyarakat, perusahaan dan pemerintah harus duduk bersama untuk menentukan tujuan bersama dan langkah yang harus dilakukan sebagai upaya pemulihan.
Prinsip pembangunan berkelanjutan merupakan salah satu solusi yang dapat dilakukan dalam menangani keadaan ini, dimana pembangunan dilakukan dengan memperhatikan faktor lingkungan dan dampak yang dapat ditimbulkan dari pembangunan tersebut. Sebagai contoh, perlunya ditinjau kembali dampak yang timbul dari keberadaan pabrik di sekitar ekosistem Danau Toba, apakah mengakibatkan kerusakan jangka pendek atau tidak bagi ekosistem Danau Toba.
Selain itu, upaya lain yang dapat dilakukan merupakan pendekatan konservasi berbasis komunitas dan penggunaan daya tarik moral, agama dan etika yang digunakan untuk mendorong perilaku yang tepat terhadap lingkungan.
Gunung Pusuk Buhit yang merupakan salah satu komponen ekosistem danau Toba merupakan gunung sisa letusan gunung Toba Purba yang dipercayai sebagai tempat Debata Mulajadi Nabolon menurunkan si Raja Batak dan kemudian mendirikan huta Sianjurmulana yang menjadi awal peradaban suku Batak, yang kemudian berpindah kedaerah lain seperti Padang Lawas, Mandailing, dan Angkola untuk membuka perkampungan dan persawahan guna memperluas wilayah kerajaan. Hal ini lah yang kemudian membuat Toba dianggap sebagai pusat dan pertahanan dalihan natolu yang merupakan falsafat hidup masyarakat adat Batak yang dapat menjadi pemersatu di tengah-tengah masyarakat.
Hilangnya ekosistem danau yang mengakibatkan kekurangan cadangan air tanah pada suatu wilayah tentunya akan mengancam ketersediaan air bersih bagi kehidupan manusia di ekosistem tersebut, dengan kondisi di atas tentu manusia akan mencari tempat baru yang memiliki ketersediaan air bersih. Kehilangan ekosistem Danau Toba kemudian dapat menyebabkan punahnya suku dan adat Batak. Orang-orang yang berpindah dari wilayah sekitar Danau Toba lama-kelamaan akan berinteraksi dengan kebudayaan di tempat yang baru dan kemudian menjadi bagian dari budaya yang baru, hal ini dapat terjadi karena tidak adanya lagi “rumah” bagi suku Batak untuk mengingat darimana dirinya berasal dan tidak adanya lagi “rumah” untuk pulang.
Sekian dan ulang lupa bona, beta marsipature hutanabe!
.

TENTANG PENULIS

Tioman Frischa Meriane Siahaan
Mahasiswi Jurusan Pendidikan Biologi, Universitas Jambi,
Twitter @IchaShn

Danau Toba via Tele. ©T. Frischa. M.S

Danau Toba via Tele. ©T. Frischa. M.S

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>