Published On: Kam, Nov 17th, 2016

Wapres: Pemberantasan Korupsi Kita Terbaik Di Dunia

Share This
Tags

suarakedaulatan.com,JAKARTA-Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) tegaskan, Indonesia merupakan ilustrasi-kebangsaannegara terbaik dalam hal pemberantasan korupsi. Bahkan menurutnya, dalam pemberantasan korupsi, belum ada satu pun negara lain di dunia yang mampu mengungguli rekor penindakan koruptor di Indonesia.

“Kalau dalam penindakan hukum, Indonesia juara dunia. Tidak ada negara lain yang bisa menghukum koruptor seperti di Indonesia. Kita saja sudah sembilan menteri masuk penjara. Kalau di negara lain satu menteri saja masuk penjara jadi berita dunia, tapi di kita, tidak,” kata JK saat menjadi pembicara kunci dalam Anti Corruption Summit (ACS) di gedung Graha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Hadir dalam acara tersebut, Ketua KPK Agus Rahardjo, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristek Dikti) Muhammad Nasir, Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X, Rektor UGM Dwikorita Karnawati dan para civitas akademika UGM.

JK mengatakan, dalam waktu 10 tahun terakhir saja, ada sembilan bekas menteri dipenjara KPK. Tidak sampai disitu, KPK juga menjerat tiga ketua umum partai, yakni Demokrat, PPP, PKS, kemudian Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) hingga ratusan bupati dan anggota DPRD karena kasus korupsi.

Selain itu, dua gubernur bank sentral juga ditangkap karena kasus korupsi. “Di suatu negara jika satu gubernur bank sentralnya masuk penjara, langsung ambruk mata uangnya, kita tidak apa-apa,” sambung JK.

Banyaknya pejabat negara yang dipenjara karena korupsi, lanjut JK, menunjukkan bahwa negara sangat keras dalam upaya pemberantasan korupsi.

“Kita sudah menghukum luar biasa. Jadi jangan ada yang bilang kita tidak keras terhadap korupsi,” tegasnya.

Lebih lanjut, JK mengatakan, memang ada banyak negara yang berhasil memberantas korupsi seperti Selandia Baru, Hong Kong dan Singapura. Makanya, indikator pemberantasan korupsinya sangat baik.

Namun JK menilai, negara-negara ini tidak bisa disamakan dengan Indonesia karena dalam hal jumlah penduduk dan luas wilayahnya saja berbeda jauh.

“Hong Kong dengan Singapura tidak bisa dibandingkan dengan kita, penduduknya sekitar 5 juta, kita 258 juta,” tegasnya.

Namun, lanjut dia, Indonesia bisa mengambil pelajaran dari Singapura terkait keberhasilan pemberantasan korupsi.

Kendati demikian, JK mengingatkan jangan sampai gencarnya pemberantasan korupsi ini kemudian menghambat perekonomian nasional.

“Sekarang ini kita sudah melaksanakan antikorupsi dengan menghukum banyak orang, tapi efek sampingnya adalah ketakutan yang menyebabkan pejabat sulit mengambil keputusan,” katanya.

Tidak bisa dipungkiri, kata JK, gencarnya pemberantasan korupsi ini membuat banyak pejabat sangat hati-hati dalam mengambil keputusan karena takut dan khawatir tersandung masalah hukum.

Akibatnya para pejabat pejabat meminta presiden mengeluarkan payung hukum, keputusan menteri sehingga pemerintah makin banyak mengeluarkan peraturan.

“Akibatnya ekonomi lambat jalannya dan efeknya kepada seluruh masyarakat,”katanya.

Hanya saja, JK menyayangkan gencarnya pemberantasan korupsi ini justru dianggap seakan-akan korupsi masih merajalela di Indonesia, padahal sebenarnya KPK sudah berhasil menekan angka korupsi.

Menurut JK, masyarakat saat ini berpikir kalau tidak ada yang ditangkap karena korupsi berarti KPK tidak bekerja dengan baik.

“Menghukum itu perlu, tapi kita juga perlu mempelajarai restorative justice, yakni bagaimana mengembalikan kerugian negara. Hal itu menunjukkan, sistem pemberantasan korupsi di Indonesia juga perlu diperbaiki, bukan sekadar menghukum. Karena realitanya, walaupun ada puluhan hingga ratusan orang masuk penjara, tidak menyebabkan negeri ini lebih maju,” ujarnya.

JK meyakini, semakin banyak-nya koruptor yang ditangkap oleh KPK, maka semakin kecil kemungkinan untuk korupsi.

Menurutnya, menyuap dengan cara apapun bahkan menggunakan uang dengan memasukkan dalam tas plastik dengan mudah dapat diketahui, apalagi melalui cek atau transfer.

Sumber: Rakyat Merdeka

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>